Kegiatan Dosen

Orasi Ilmiah Guru Besar : Menangkap Satu Burung Liar Sama Dengan Membunuh 10 Burung
Bogor, 30 Januari 2016. Guru Besar Tetap Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (Fahutan IPB), Prof. Ani Mardiastuti telah melakukan orasi ilmiah guru besar di Kampus IPB Darmaga, Bogor. Pada orasi tersebut beliau menyampaikan hal penting bahwa jika satu burung liar dari Indonesia Timur didatangkan ke tempat kita maka itu berarti 10 temannya mati. Mati dalam perjalanan akibat kurang makan. “Kalau mau pelihara burung jangan pilih yang dari alam,” ujarnya.
Burung spesial, paruhnya seperti gading gajah, paruh diambil dijadikan botol kecil atau hiasan. Bahkan ada burung dari Indonesia yang paruhnya diambil untuk diperjualbelikan. Harga paruhnya 100 ribu rupiah per gram. “Burung ini dibantai, di China. Saya cari burung ini di lapang susahnya bukan main, tapi mereka mendapatkan segitu banyaknya,” imbuhnya.
Maka dari itu, untuk melindungi populasi burung Prof. Ani dan tim peneliti di Fahutan IPBmemetakan lanskap burung di Indonesia. Tim  membagi lanskapnya menjadi empat bagian yakni lanskap utuh, kombinasi, terfragmentasi dan relik.
“Lanskap relik itu jumlah pohonnya hanya 10 persen. Ini menunjukkan dominasi manusia. Kalau banyak manusia maka hutan kalah,” ujarnya.
Dari keempat lanskap tersebut, Prof. Ani membagi burung menjadi tiga golongan yakni burung yang memiliki karakter avoider, adapter dan exploiter.
“Contoh burung avoider adalah burung julang. Jika di lapang kita masih bisa menemukan burung ini, maka hutan tersebut masih bagus kualitasnya. Karena burung ini termasuk burung yang setia kepada pasangannya. Contoh burung yang adapter adalah burung kutilang. Dan contoh burung exploiter yang suka dengan keberadaan manusia adalah burung gereja,” terangnya.
Dari tiga tipe tersebut, Prof. Ani membuat tiga strategi menjaga populasi burung di Indonesia, yakni lindungi, maintain dan kontrol. Untuk burung avoider cara menjaganya adalah dengan perlindungan undang-undang. Untuk burung adapter cara perlindungannya adalah dengan membuat habitat yang ramah burung. Selanjutnya, untuk burung eksploiter diperlukan monitoring dan kontrol karena bisa membludak.(zul).
subject : Burung Liar , Prof. Ani Mardiastuti , Fahutan IPB , Burung Julang
12524045_10204168619975249_1212410863971652169_n
12647177_10204168614375109_6453473201509664488_n

Pembukaan Program Summer Course Institut Pertanian Bogor- University of Sydney Tahun 2016

Bogor, 11 Januari 2016. Insitut Pertanian Bogor (IPB) menjadi tuan rumah program  Summer Course mahasiswa University of Sydney (UoS), Australia. Program yang direncanakan berlangsung selama 12 hari tersebut membagi kegiatan materi dan praktek di dalam kampus ditambah dengan field trip di beberapa lokasi di Jawa Barat. Salah satu departemen yang turut berpartisipasi dalam kegiatan summer course ini ialah Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB.

Mengangkat tema “Jamu, an Indonesian Traditional Medicine and Culture for Healthy Society”, summer course kali ini bertujuan untuk sharing ilmu tentang jamu atau tumbuhan obat Indonesia. Selain itu juga tidak kalah penting sebagai sarana belajar civitas akademika IPB dan UoS guna meningkatkan penggunaan dan nilai ekonomi jamu untuk pelayanan kesehatan masyarakat.

Pembukaan summer course berjalan lancar di Ruang Senat Akademik lantai 6 Gedung Rektoran IPB. Mewakili pimpinan IPB, Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama, Prof. Dr. Ir. Anas Miftah Fauzi, M.Eng membuka kegiatan ini dengan memberikan gambaran tentang IPB dan beberapa prestasinya. Selaku ketua pelaksana program summer course, Prof. Dr. Ir. Ervizal AM Zuhud, MS dalam laporannya menjelaskan secara umum rangkaian kegiatan summer course mulai dari pengenalan umum tentang kesehatan dan menjaga kesehatan, pengenalan jamu dan simplisia, identifikasi, penanganan pasca panen, pembuatan jamu, mengunjungi penangkaran lebah madu dan trenggiling, juga  field trip di beberapa lokasi seperti Kampung Djamu Organik di Cikarang, Holistic Hospital di Purwakarta, Kampung Naga di Tasikmalaya, juga Saung Udjo di Bandung. Melanjutkan laporannya, Prof. Amzu sapaan akrab beliau menerangkan bahwa jumlah peserta yang turut berpartisipasi dalam summer course kali ini terdiri dari 20 mahasiswa UoS dan 2 official serta 10 mahasiswa IPB dan beberapa dosennya. Di akhir laporannya, Prof. Amzu juga berharap semoga kegiatan ini dapat berjalan lancar hingga akhir acara di tanggal 22 Januari mendatang. Bravo untuk Summer course IPB-UoS. (Arya A Metananda).

summer-2
summer-3 summer-4
summer-5 summer-6
summer-7
12513575_10208249536466744_7392903201546091619_o
12694481_10208249538066784_2612253943678568487_o
12525153_10208249533306665_7082283521486550127_o

Kunjungan Dosen dan Mahasiswa Universiti Malaysia Sabah (UMS) ke Divisi Rekreasi Alam dan Ekowisata

Selasa, 10 November 2015, Divisi Rekreasi Alam dan Ekowisata Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor menerima kunjungan delapan belas orang mahasiswa dan dua orang dosen dari Universiti Malaysia Sabah (UMS). Kunjungan ini dimaksudkan untuk pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan terkait kehutanan pada umumnya, khususnya dalam bidang rekreasi alam dan ekowisata. Kunjungan ini juga dilaksanakan guna untuk menjalin kerjasama antar dua instansi.

Rombongan sampai ke Ruang Sidang Komodo gedung baru DKSHE pada pukul 08.30 disambut oleh kepala divisi Rekreasi Alam dan Ekowisata dan pimpinan DKSHE. Acara diawali dengan penyampaian materi dan diskusi aktif mengenai DKSHE dan kegiatan mahasiswanya oleh Dr. Agus Hikmat sebagai Sekretaris DKSHE, dilanjutkan dengan bahasan pengelolaan Hutan Pendidikan Gunung Walat oleh Dr. Nandi Koesmaryandi, dan terakhir mengenai Divisi Rekreasi Alam dan Ekowisata oleh Prof. Harini Muntasib. Selain ketiga dosen tersebut, diskusi juga dihadiri oleh oleh Dr. Siti Badriyah Rushayati, Ir. Lin Nuriah Ginoga, MSi, dan Resti Meilani, SHut, MSi serta mahasiswa dan alumni DKSHE. Pertukaran informasi diwujudkan dengan pemaparan mengenai UMS oleh Prof Madya Dr. Abdullah Babe selaku Timbalan Dekan Akademik dan Antarabangsa yang didampingi Dr. Rosmalina Abd Rashid selaku Timbalan Dekan Penyelidikan dan Inovasi dan presentasi mengenai Keunikan Sabah oleh perwakilan mahasiswa UMS.

Rombongan melanjutkan perjalanannya dengan tur Agroedutourism IPB dengan tujuan Arboretum Fakultas Kehutanan IPB, gedung lama Fakultas Kehutanan IPB dan Laboratorium Rekreasi Alam dan Ekowisata. Perjalanan dilanjutkan ke penangkaran satwa untuk melihat penangkaran rusa dan kupu-kupu, kemudian dilanjutkan ke Biofarmaka. Dengan mengikuti program AET ini, mahasiswa dan dosen UMS dapat sedikit lebih mengetahui beragam kegiatan laboratorium lapang yang dikemas dalam suatu wisata pendidikan.

Kunjungan ini diakhiri dengan diskusi antar mahasiswa dan dosen UMS dengan mahasiswa dan dosen DKSHE. Dari hasil pertemuan ini diharapkan ada kegiatan yang lebih rinci tentang: 1. Magang (memenuhi tugas akhir mahasiswa S1 UMS) di IPB; 2. Pertukaran mahasiswa dan mungkin juga mobility dosen; 3. Penelitian bersama, mengingat IPB dan UMS sudah ada MOU, walaupun perlu dilihat kembali ruang lingkup MOU nya (Jadda Muthia).

UMS-3 UMS-4 UMS-5 UMS-6 UMS-7 UMS-8 UMS-9 UMS-10 UMS-11

Hari Pulang Kampus Alumni (HAPKA) Fakultas Kehutanan IPB  Ke-XVI Tahun 2015

Bogor, 7 November 2015. Acara Hari Pulang Kampus Alumni Fakultas Kehutanan IPB (HAPKA) yang ke- XVI tahun 2015, khususnya alumni Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE) Fakultas Kehutanan IPB, baru saja diselenggarakan di Kampus IPB Darmaga. Acara ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan selama tiga tahun sekali. Pelaksanaan kegiatan ini terakhir kali diselenggarakan pada tahun 2012 yang lalu.

Acara HAPKA ini selain sebagai ajang temu kangen alumni juga menjadi wahana konsolidasi guna menghasilkan pemikiran solutif dalam membangun kehutanan Indonesia. Berbagai pemikiran juga diteruskan kepada pihak terkait guna ditindaklanjuti yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia.

Acara HAPKA kali ini menjadi momentum yang tepat mengingat baru-baru ini bahkan sampai saat ini masyarakat Indonesia dan juga dunia sedang menyoroti kasus kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia. Momentum yang dimaksud melalui acara HAPKA ini mampu melahirkan strategi dan rencana aksi yang tepat guna menanggulangi bencana kebakaran tersebut.

Dengan tema “Bersama Almamater Membangun Negeri”, beberapa kegiatan dilaksanakan dalam acara HAPKA kali ini. Diantaranya adalah seminar kehutanan dengan tema “Kebakaran Hutan di Indoensia: Mencari Akar Masalah dan Solusi Penanggulangannya”, penganugrahan Wanabakti Award, mubes HAE IPB, perlombaan fotografi dan pegelaran musik jazz.

Adapun kegiatan seminar yang dibuka langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian LHK, Ir. Bambang Hendroyono, MM, menguak beberapa point penting yang menjadi akar masalah penyebab kebakaran. Mulai dari kurangnya pengawasan dan penindakan di lapangan, organised crime, pola pembukaan lahan, bahkan sampai cuaca ekstrim el nino diakui berkontribusi besar pada kasus kebakaran di Indoensia tahun ini. Beberapa kebijakan yang dirumuskan diantaranya review dan evaluasi perizinan, moratorium izin pemanfaatan gambut, penegakan hukum, sampai sistem ketahanan masyarakat.

Menurut ketua HAE 2012-2015 yang juga menjadi ketua pelaksana HAPKA 2015, Ir. Prie Supriadi, MM, kegiatan HAPKA tahun ini merupakan kegiatan terbesar selama pergelaran HAPKA dimulai. Jumlah peserta yang hadir mencapai lebih dari 1000 orang mulai angkatan 0 hingga angkatan 45. Turut memeriahkan acara HAPKA kali ini juga disediakan berbagai stand bazar dan pameran serta makanan yang merupakan karya atau wirausaha alumni Fakultas Kehutanan IPB.

Acara HAPKA tahun ini cukup meriah, sekalipun sempat di guyur hujan di siang hari, acara HAPKA terus saja berlanjut hingga malam harinya. Di siang hari sampai sore hari setelah seminar berlangsung dilakukan mubes guna pemilihan ketua HAE yang baru priode 2015-2018. Terpilih sebagai ketua berdasarkan hasil musyawarah ialah Bapak M Awriya Ibrahim. Beliau berharap kegiatan HAPKA ini dapat terus terlaksana dan berlangsung lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang (Arya Arismaya M).

hapka-2 hapka-3 hapka-4 hapka-5 hapka-6 hapka-7  hapka-9hapka-8

Konferensi Nasional Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia

Bogor, 13-14 Februari 2015, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE) Fakultas Kehutanan IPB menyelenggarakan Konferensi Nasional Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia.  Konferensi nasional yang diselenggarakan pertama kali ini merupakan kerjasama  Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata dengan berbagai institusi yang bergerak dalam bidang konservasi dan pengelolaan burung, yakni Pusat Penelitian Biologi – LIPI, Universitas Atmajaya Yogyakarta, Universitas Padjadjaran, Burung Indonesia, Asian Raptor Research and Conservation Network, IdOU, Suaka Elang, dan Burung Nusantara.

Sebanyak  230 orang peneliti dan pemerhati burung dari berbagai profesi (mahasiswa, dosen, peneliti, praktisi, fotografer) turut serta dalam Konferensi ini.  Peserta berasal dari berbagai tempat di Indonesia, termasuk dari Banda Aceh, Menado, Ternate, hingga ke Kupang.  Konferensi ini dilaksanakan sebagai ajang pertukaran informasi ilmiah antar para peneliti dan pemerhati burung, sekaligus sarana berkenalan dan bermitra.

Konferensi tersebut diselenggarakan dalam 3 Sesi Umum dan 12 simposia.  Pada Sesi Umum, pembicara utama adalah Bas van Balen (peneliti burung handal dari Belanda), Tom Kirsche (BirdLife Germany), Dewi M. Prawiradilaga (Pusat Penelitian Biologi LIPI), Agus Budi Utomo (Burung Indonesia) dan Ani Mardiastuti (Fakultas Kehutanan IPB).   Sementara itu, dalam symposia disampaikan 72 presentasi lisan dan 22 poster, yang disusun dalam  9 topik utama, yakni burung di habitat termodifikasi, burung di habitat alami, burung-burung di Kawasan Wallacea, raptor dan burung pantai, perilaku dan guild, perdagangan dan penangkaran eks-situ, genetika dan nutrisi, metoda penelitian, serta burung dan manusia.

Dalam Konferensi tersebut, Prof. S. Somadikarta telah dikukuhkan sebagai “Bapak Ornitologi Indonesia”.  Prof. Somadikarta telah mengabdikan dirinya sebagai peneliti burung selama 60 tahun terakhir.  Beliau telah pula mengangkat nama Indonesia di dunia internasional melalui hasil penelitian burung yang ditulis dalam berbagai jurnal.

Para peserta telah bersepakat bahwa konferensi semacam itu perlu dilaksakan setiap tahun, untuk lebih memacu penelitian burung oleh berbagai pihak.  Untuk tahun depan, Universitas Atmajaya Yogyakarta telah bersedia menjadi tuan rumah Konferensi Nasional Peneliti dan Pemerhati Burung yang kedua.  Konferensi yang akan datang direncanakan diselenggarakan di Yogyakarta pada minggu pertama bulan Februari 2016 (Ani Mardiastuti).

burung-2 burung-3 burung-4 burung-5 burung-6 burung-7

 

 

Workshop “Traditional Forest Knowledge for Ecosystem Services in ASEAN Countries

Kuala Lumpur, 2-4 Februari 2015. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE) Fakultas Kehutanan IPB mengirimkan dua orang dosen untuk mengikuti workshop “Traditional Forest Knowledge for Ecosystem Services in ASEAN Countries” di Kuala Lumpur, Malaysia.
Workshop ini merupakan lanjutan dari konferensi internasional ke 7 tentang “Traditional Forest Knowledge and Culture in Asia” pada bulan September 2014 di Seoul, Korea Selatan. Workshop ini bertujuan untuk mendokumentasikan jasa ekosistem hutan yang berasal dari pengetahuan tradisional masyarakat. Turut hadir dalam workshop ini beberapa peserta dari negara di Asia seperti Korea, Filipina, Kamboja, Vietnam, Malaysia dan Indonesia.

Agenda acara dalam worksop ini yaitu presentasi dari masing-masing peserta terkait dengan dokumentasi jasa ekosistem hutan yang berhubungan dengan pengetahuan tradisional, setelah itu dilanjutkan dengan field trip. Peserta dari Korea menyajikan hasil penelitian tentang pemetaan dan perbandingan jasa ekosistem hutan di Pegunungan Gariwang dan Pulau Jejudo, sedangkan peserta dari Filipina memaparkan jasa ekosistem hutan yang berhubungan dengan pengetahuan tradisional sekitar DAS di Filipina, dan peserta dari Kamboja menyampaikan tentang dokumentasi jasa ekosistem hutan Masyarakat Key di Provinsi Kampong Thom. Sementara itu peserta dari Vietnam memaparkan hasil penelitian tentang perubahan diakronis jasa ekosistem hutan di bagian utara Vietnam.

Peserta dari Malaysia mempresentasikan hasil penelitian penggunaan dan persepsi sumber daya hutan di Semenanjung Malaysia serta trend pengetahuan tradisional berkaitan tentang jasa ekosistem hutan di Desa Tudan, Sabah, Malaysia. Peserta dari Indonesia memaparkan hasil penelitian tentang dokumentasi jasa ekosistem hutan yang berhubungan dengan pengetahuan tradisional, studi kasus di Etnis Sunda, Hegarmana Sukabumi, Jawa Barat dan dokumentasi jasa ekosistem hutan yang berhubungan dengan pengetahuan tradisional, studi kasus di Etnis Dayak Tobak, Sanggau Kalimantan Barat.

Workshop ini berjalan dengan lancar. Para peserta pun terlihat sangat antusias mengikuti jalannya workshop, terutama saat agenda field trip. Saat field trip di Kuala Selangor para peserta workshop yang berjumlah 25 orang, asik di atas kapal boat melihat dan mendokumentasikan berbagai jenis burung, terutama elang yang datang mendekati kapal, seakan gembira menyambut kedatangan kami. Pada malam harinya para peserta diajak melihat indahnya cahaya kunang-kunang yang hinggap di hamparan mangrove di tepian muara sungai Kuala Selangor. Tidak hanya itu pengalaman baru juga didapatkan saat para peserta workshop ketika mengunjungi orang Asli di Kampung Budaya Mah Meri dan Tanjung Sepat, di tempat ini para peserta diajak mempraktekan langsung bagaimana upacara pernikahan ala Orang Asli Mah Meri.
Pengalaman berharga yang didapat dalam workshop ini, memberikan pengalaman berharga bagi dua orang dosen DKSHE yaitu Prof. Dr. Ervizal A.M. Zuhud dan Dr. Agus Hikmat, atau peserta lainnya dari Indonesia yaitu Ellyn K. Damayanti S. PhD, Dr. Siti M. Kartikawati dan Arya Arismaya Metananda, SHut, tentang cara mengemas paket ekowisata sehingga lebih menarik. Potensi yang dimiliki negara kita begitu melimpah, tidak hanya potensi flora dan fauna, juga bentang alamnya dan akan terlihat mempesona ketika dikemas dengan baik dan dipromosikan menjadi paket wisata yang menarik

Workshop yang terselenggara berkat dukungan FRIM (Forest Research Institute Malaysia), APAFRI (Asia Pacific Association of Forestry Research Institutions), dan KFRI (Korea Forest Research Institute), akan terus diselenggarakan. Pada tahun 2016 mendatang sudah disepakati bahwa obyek penelitian berkaitan dengan pengetahuan tradisional dalam mempertahankan jasa ekosistem hutan baik itu melalui praktek konservasi, aturan dan peraturan, kepercayaan, bentuk pengetahuan tradisional seperti cerita rakyat, lagu, puisi dan lain-lain (Arya Arismaya Metananda).

malay-2 malay-4 malay-3 malay-5 malay-6 malay-8 malay-7 malay-9 malay-10 malay-11

 

 

Lokakarya Pemantapan Learning Outcome Program Sarjana DKSHE Berbasis KKNI

Bogor, 15-16 September 2014. Dalam rangka memantapkan capaian pembelajaran atau Learning Outcome (LO) Program Sarjana Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE) Fakultas Kehutanan IPB berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), mengadakan lokakarya yang bertempat di Sentul Leadership Development Center (SLDC), Sentul, Bogor. Acara lokakarya tersebut dibuka oleh Ketua DKSHE, Prof. Dr Ir Sambas Basuni, MS.

Tujuan lokakarya tersebut terutamanya adalah untuk memantapkan kompetensi utama dan LO yang telah disusun sebelumnya, agar Program Sarjana DKSHE menjadi lebih terarah lagi dalam menghadapi akreditasi internasional Asean University Network (AUN) yang sedang dalam proses penyempurnaan dokumen yang diperlukan dalam akreditasi.

Lokakarya tersebut sangat menarik, karena selain berhasil memantapkan empat kompetensi utama dan 12 LO Program Sarjana DKSHE serta dihadiri sebagian besar staf dosen DKSHE yang sangat sulit terjadi dalam aktivitas sehari-hari. Disamping itu bertepatan juga dengan ulang tahun Ketua DKSHE. Jadi lokakarya yang bersuasana serius menjadi lebih cair (Agus Hikmat).

Sentul-2 Sentul-4 Sentul-3 Sentul-5 Sentul-6 Sentul-7

 

 

Lesson Learned Akreditasi Internasional AUN

Bogor, 22 Agustus 2014. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (Departemen KSHE) Fakultas Kehutanan IPB sedang mempersiapkan dokumen untuk akreditasi internasional melalui Asean University Network (AUN). Akreditasi AUN diharapkan akan memberi dampak yang besar dalam pengelolaan program studi sarjana Departemen KSHE. Sehubungan dengan DKSHE mengundang Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (Departemen INTP) Fakultas Peternakan IPB yang telah terlebih dahulu teradkreditasi AUN untuk mendapatkan lesson learned pengalaman dalam proses akreditasi AUN tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Ketua Departemen KSHE Prof Dr Sambas Basuni, MS dan Tim Akreditasi AUN Departemen KSHE yang terdiri dari antara lain Dr Arzyana Sunkar, Dr Agus Hikmat, Dr Siti Badriyah Rushayati, Eva Rachmawati, SHut, MSi. Sedangkan dari Tim Akreditasi AUN Departemen INTP hadir Dr Sri Suharti dan Ir Dwi Margi Suci, MS. Dalam paparannya, Tim Akreditasi AUN Departemen INTP, menekankan pentingnya menyusun dokumen SAR AUN sesuai dengan panduan yang dikeluarkan AUN yaitu sebanyak 15 kriteria. Bukti-bukti dokumen harus tersedia sewaktu visitasi dilakukan. Fasilitas yang mendukung kegiatan program studi harus disiapkan, termasuk juga dokumen SAR AUN dimuat didalam web Departemen KSHE.

Dengan adanya lesson learn dalam akreditas AUN dari Departemen INTP ini, diharapkan Tim Akreditasi AUN Departemen KSHE dapat mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan akreditasi tersebut secara lebih baik lagi (Agus Hikmat).

aun-5 aun-2 aun-3 aun-4

Pembukaan Summer Course:  An Introduction to Tropical Biodiversity from Mountain to the Sea

Bogor, 21 Agustus 2014. Pembukaan secara resmi program Summer Course dengan tema “An Introduction to Tropical Biodiversity from Mountain to the Sea” dilakukan di Gedung Rektorat Andi Hakim Nasution pada Kamis 21 Agustus 2014. Program summer course ini merupakan program kerjasama Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE), Departemen Manajemen Hutan (DMNH) Fakultas Kehutanan IPB dengan Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (DMSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Program ini dikoordinir oleh Kantor Kerjasama Internasional IPB. Pada pembukaan summer couse tersebut dihadiri oleh Sekretaris DKSHE, Dr Agus Hikmat.

Program summer course tahun 2014 ini merupakan pelaksanaan kali kedua diikuti sebanyak 8 orang yang terdiri dari 2 orang dosen dan 6 orang mahasiswa dari Tokyo Agricultural University dan Ibaraki University, Jepang. Selain kuliah di Kampus IPB Darmaga, kegiatan summer course dilakukan juga kegiatan praktek lapang di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi dan Pulau Pari Kepulauan Seribu. Dosen DKSHE yang terlibat dalam program ini antara lain : Dr Yeni A. Mulyani, Dr Mirza D. Kusrini, Dr Arzyana Sunkar, Eva Rachmawati, SHut, MSi dan Resti Meilani, SHut, MSi. Program summer course ini berlangsung dari tanggal 21 Agustus sampai dengan 1 September 2014 (Agus Hikmat).

SC-2 SC-3 SC-4 SC-5